Showing posts with label Sepak Bola. Show all posts
Showing posts with label Sepak Bola. Show all posts

Tuesday, May 19, 2015

Uni Papua, Dari Merauke Sampai Ke Sabang

Mismail     5:09 AM    
Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Dari Papua sampai Aceh, berjajar pemain-pemain sepakbola, bergabung menjadi satu, itulah Uni Papua.

Setelah Uni Papua diterima di Soe Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Landak Kalimantan Barat dan Salatiga Jawa Tengah.Kini Uni Papua hadir di Provinsi terbarat Indonesia, yakni di Provinsi Aceh. Uni Papua hadir di Aceh dengan komunitas sepakbola social bernama Kuta Gle Uni Papua Banda Aceh.

“Kuta artinya Benteng, Gle artinya Gunung, jadi Kuta Gle adalah Benteng terakhir yang paling sulit ditaklukan oleh Penjajah,” jelas tokoh sepakbola Banda Aceh, H. Aminullah Usman, SE, kepada media relation Uni Papua, Senin (18/5).

Dijelaskan, semangat pantang menyerah dan tetap teguh pada sportifitas sepakbola menjadi arti dari Kuta Gle Uni Papua Banda Aceh. “Mari kita berjuang bersama membangun Generasi Masa Depan melalui sepakbola sosial Uni Papua,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengurus PSSI Provinsi Aceh, Ir.Khadir,TM,MM menyambut baik kehadiran Uni Papua di Banda Aceh. Ia berharap kehadiran Uni Papua dapat menjadi kekuatan besar untuk membawa perubahan sepakbola di Indonesia.

CEO Uni Papua, Harry Widjaja bahkan tak menyangka Uni Papua mendapat respon dari masyarakat di Aceh.

Dengan hadirnya Uni Papua di Aceh, nampaknya memberi sinyal yang kuat, jika sepakbola sosial Uni Papua sangat dibutuhkan Indonesia saat ini, untuk membangun karakter dan moral anak Indonesia, bukan saja lewat sepakbola, tapi juga lewat bidang ilmu pengetahuan lainnya. (MR/UP)

Tentang Perkumpulan Sepak Bola Uni Papua

Mismail     5:07 AM    
Perkumpulan Sepak Bola Uni Papua ( Uni Papua FC / Football Community ) didirikan berdasarkan Akta Notaris No 10 tertanggal 8 November 2013 Notaris Chandra Lim, S.H., LL.M,, Surat Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Direktorat Jendral Administrasi Hukum Umum No Surat : AHU2.AH.01.04. CN-24 tertanggal 3 Januari 2014.

Organisasi Sosial dan Non Government Organisation dengan kategori Social Sport Development.Uni Papua bertujuan untuk membangun kehidupan Sosial melalui Sepak Bola di Tanah Papua dan Wilayah Indonesia bagian Timur.Program yang dilakukan oleh Uni Papua adalah membangun kehidupan sosial anak-anak dari usia 6 - 21 tahun, membina mereka dalam wadah Sekolah Sepak Bola usia dini, membagikan dan menanamkan nilai-nilai positif untuk menangkal pergaulan bebas dan penyebaran HIV/AIDS di kalangan generasi muda, memiliki pengetahuan yang cukup akan bahaya obat terlarang dan minuman keras. Melibatkan potensi dan kreatifitas pada masa muda mereka untuk mengembangkan keahlian dalam Sepak Bola dengan nilai sportifitas, karakter yang baik untuk menghargai sesama, membiasakan hidup sehat, menghargai kesetaraan gender dan nilai-nilai kemanusiaan, serta memelihara dan peduli kepada lingkungan.
Profil dan sejarah Uni Papua dapat dilihat pada :https://www.youtube.com/watch?v=WXk5i8qwkcw
Saat ini Uni Papua FC berada di Biak, Sentani dan Maybrat. ( Maret 2014 ) dan akan berkembang di beberapa kabupaten di Papua dan Papua Barat.
  1. Uni Papua FC adalah organisasi Pertama dan satu-satunya Komunitas Sekolah Sepak Bola di Indonesia yang terdaftar sebagai Anggota CSR / Coorporate Social Responsibility dari FIFA dalam Program Football For Hope FIFA (Federation of International Football Association).http://www.fifa.com/aboutfifa/socialresponsibility/footballforhope/

  2. Tanggal 7 Maret 2014, Uni Papua FC resmi sebagai anggota dari Streef Football World (Sepak Bola Sosial) sebuah Lembaga dibawah FIFA (Federation of International Football Association).http://www.streetfootballworld.org/network-member/uni-papua-football-community

  3. Uni Papua FC pada 2014 ini adalah tahun ke-2 Bekerja sama dengan CAC (Coaches Across Continent) atau Pelatihan Pelatih Sepak Bola antar Benua.http://coachesacrosscontinents.org/
Mari bersama-sama mendukung Uni Papua FC sebagai salah satu Agen Perubahan, Perdamaian dan peningkatan masa depan serta kualitas hidup anak-anak Papua.
Facebook : Uni Papua, Tiwtter @UniPapua, email : unipapua.fc@gmail.com

Uni Papua Football Community Rambah Aceh

Mismail     4:52 AM    
Komunitas sepakbola bersifat global berlabel ‘Uni Papua Football Community’ resmi berdiri di Aceh. Uni Papua region Aceh yang diberi nama ‘Kuta Glee Uni Papua Football Community’ tersebut di-launching secara resmi oleh mantan Dirut Bank Aceh, Aminullah Usman di Raja Futsal, Lamlagang, Banda Aceh, Minggu (17/5).

Turut hadir dalam peluncuran tersebut, Sekum PSSI Aceh, Khaidir TM; sesepuh Kuta Glee Uni Papua Football Community, Syahrial; serta para pemain dari tingkatan umur.

Aminullah Usman dalam sambutannya meminta agar keberadaan komunitas sepakbola tersebut tetap eksis dalam melakukan pembinaan sepakbola secara berkesinambungan di Aceh. “Jangan sampai nanti setelah diresmikan, justru mandek dan tidak berjalan. Oleh karena itu, saya sangat berharap Kuta Glee Uni Papua Football Community ini tetap eksis dan makin berkembang di kemudian hari,” pinta Aminullah yang notabene adalah bolamania sejati ini.

Harapan serupa juga disampaikan Sekum PSSI Aceh, Khaidir TM. Dia mengaku sangat memberi apresiasi dan mendukung penuh atas peresmian komunitas sepakbola tersebut. “Semoga saja, Kuta Glee Uni Papua ini dapat menjadi kawah candradimuka yang kelak melahirkan bakat-bakat baru di dunia sepakbola dan futsal Aceh,” harapnya.

Sementara itu, Koordinator Uni Papua Football Community Region Aceh, Fauzainy MY mengatakan, Uni Papua adalah komunitas sepakbola global yang bergerak dalam pembinaan sepakbola usia dini dan remaja mulai umur 6 hingga 18 tahun. “Uni Papua tak cuma fokus membina pemain sepakbola, tapi juga futsal. Artinya, para pemain akan dipantau sejak dia berumur 6 tahun untuk dilihat kecenderungan bakat dia, apakah berbakat di sepakbola atau futsal. Dari situ baru nanti diarahkan dan dibina secara fokus sesuai dengan bakat masing-masing,” jelasnya kepada Serambi usai peresmian, kemarin.

Di Indonesia, kata dia, Uni Papua Football Community sudah hadir di enam wilayah mencakup Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, serta Papua. “Untuk wilayah Samutra, Uni Papua hanya berdiri di Aceh,” ungkapnya.

Dia menceritakan, pihaknya sudah mencoba menjajaki kerjasama dengan Uni Papua untuk membuka cabang di Aceh sejak Desember 2013 lalu. Setelah negosiasi yang lumayan alot, baru pada Mei 2015 Uni Papua mau masuk ke Aceh dan menjadi satu-satunya cabang di Sumatra.

“Visi dan misi Uni Papua sangat global, karena mereka merupakan patner kerja FIFA dalam menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR). Oleh sebab itu, sistem pembinaan dan pelatihan di Uni Papua sangat konfrehensif dengan standar AFC dan UEFA,” urainya. “Bahkan, demi menjaga standar ini, dua kali dalam setahun, mereka selalu menggelar pelatihan bagi 100 pelatih dari semua region di bawah gemblengan instruktur berpengalaman dari AFC dan UEFA,” demikian Fauzainy. [serambi]

Saturday, May 2, 2015

Mengenang Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia

munawardismail     1:31 AM    
Judul Buku: Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola
Penulis: R.N. Bayu Aji
Tebal: xxi +141 hlm
Penerbit: Ombak, Yogyakarta
Edisi: I, 2010

Buku ini punya posisi penting justru karena isu-isu di luar teknis sepakbola itu sendiri: bagaimana posisi orang-orang Tionghoa dalam peta kewargaan di Indonesia.

Umum diketahui, orang Tionghoa punya posisi yang kompleks dalam struktur sosial di Indonesia. Mereka eksis, sudah ada di wilayah Nusantara berabad-abad lamanya, tapi posisi mereka masih seringkali dianggap sebagai outsider, orang luar. Mereka punya peran besar dalam roda ekonomi di Indonesia dengan segala macam stereotipe yang melekat, tapi di ranah lain mereka tak banyak punya keleluasaan bergerak -- misalnya saja: dalam politik atau militer.

Diskriminasi rasial yang mereka alami memang bukan terjadi hanya dalam fase pasca-kemerdekaan saja. Akarnya jauh lebih dalam dari itu. Pemerintah kolonial Belanda sendiri memang merancang segregasi sosial yang ketat, dengan orang-orang Tionghoa menjadi salah satu target utama pembatasan ruang gerak itu. Mereka ditempatkan di wilayah tertentu, dengan dipimpin oleh orang Tionghoa sendiri [pemimpinnya kerap disebut "Kapiten Cina"] dan harus membawa pass/surat jalan ketika mereka keluar dari enclave-nya sendiri.

Segregasi rasial itu diejawantahkan dalam politik kewargaan kolonial yang membagi warga negara di Hindia Belanda ke dalam tiga kategori: orang Eropa, vreemde-oosterlingen [orang-orang Timur Jauh dan Tionghoa masuk ketagori ini] dan kaum bumiputera. Segregasi sosial itu tidak hadir secara setara, tapi hierarkis dengan orang-orang Eropa berada di puncaknya. Sementara kategori vreemde-oosterlingen dan kaum bumiputera berada di bawahnya dan -- ini siasatnya-- diposisikan saling berhadapan.

Kajian tentang bagaimana peran dan aktivitas orang-orang Tionghoa dalam olahraga [tidak terkecuali dalam sepakbola] menjadi menarik untuk dibaca dalam konteks politik kewargaan ini. Terutama dalam fase Indonesia modern, di mana orang Tionghoa harus menerima banyak diskriminasi dan pembatasan, olahraga memainkan peran strategis bagi sebuah isu penting: bagaimana orang Tionghoa berinteraksi dan memposisikan dirinya dalam kehidupan sosial di Indonesia yang kompleks dan diskriminatif.

Sepakbola -- dan olahraga -- jadi salah satu medan interaksi antara orang-orang Tionghoa dengan ke-Indonesia-an. Di medan inilah orang-orang Tionghoa punya peran yang tak bisa dan tak mungkin dilupakan.

Tak terhitung nama-nama besar pemain sepakbola Tionghoa yang pernah membela panji Indonesia. Dari mulai Mo Heng yang memperkuat timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 sampai nama-nama kontemporer seperti Nova Arianto dan Kim Kurniawan. Sayang, kontribusi dan keterlibatan pemain-pemain Tionghoa dalam sepakbola Indonesia belakangan tidak semeriah seperti di dekade 1950-an sampai 1980-an.

Karena itulah, dengan caranya sendiri, buku ini mengajukan pertanyaan yang sudah jarang diajukan: ke mana mereka?

Buku yang ditulis guna menyelesaikan tugas akhir S-1 di Departemen Sejarah Universitas Airlangga ini melengkapi salah satu puzzle dalam sejarah sepakbola Indonesia. Harus diakui, biar bagaimana pun sejarah sepakbola Indonesia memang mustahil dikisahkan tanpa mengungkap peranan orang-orang Tionghoa ini. Orang-orang Tionghoa ini bukan hanya banyak menyumbang pemain, tapi memang pernah menjadi kekuatan penting dalam politik sepakbola di Hindia Belanda.

Salah satu bagian menarik dari buku ini ada di bab IV yang berjudul "รข€œPerjalanan Perkumpulan Sepakbola Tionghoa Surabaya". Di bab itu, RN Bayu Aji dengan baik memotret Tionghoa sebagai salah satu kutub penting sepakbola saat itu. Saat itu bukan hanya terjadi "dualisme" federasi dan kompetisi, tapi bahkan ada tiga berkat orang-orang Tionghoa ini.

Jika orang-orang Belanda punya Nederlandsch Indische Veotbal Bond [NIVB] dan orang-orang bumiputera punya Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia [PSSI], maka orang Tionghoa juga punya Hwa Nan Voetbal Bond [HNVB]. Masing-masing "federasi" itu punya klub-klub anggotanya sendiri dan menjalankan kompetisinya masing-masing.

Dan HNVB adalah salah satu kutub penting dengan klub dan pemain-pemain berkualitas. Di Batavia ada UMS [Unions Makes Strength], di Bandung ada YMC [Young Men's Combination], di Semarang ada Union Semarang dan di Surabaya ada POR Gymnastiek Sport Vereniging Tionghoa [selanjutnya ditulis POR] yang didirikan pada 1908. POR ini memiliki pengurus cabang olahraga yang berbeda-beda, sementara cabang sepakbola di POR didirikan Oei Kwie Liem pada 1915.

Mereka juga punya steden wedstrijden atau kompetisinya sendiri yang sudah dimulai sejak 1917. Awalnya, kompetisi mereka berjalan monoton karena hanya diikuti bond-bond sepakbola Tionghoa dari kosa-kota besar saja. Puncaknya, pada 1927, Comite Kampioen Wedstrijden Tiong Hoa [CKTH]. Dari situlah akhirnya munculnya NHVB sebagai organisasi yang menaungi semua bond sepakbola Tionghoa di Hindia Belanda.

Lihatlah, bagaimana sejarah "dualisme" dalam sepakbola Indonesia sebenarnya bukan hanya terjadi sekarang-sekarang saja, tapi memang sudah ada presedennya di masa lalu. Tentu tidak sama persis, tapi menyadari ada persinggungan paralelisme dulu dan sekarang bisa mempertajam pengertian kita tentang aspek politis dalam sepakbola Indonesia.

Dengan menelusuri bagaimana orang-orang Tionghoa di Surabaya bermain bola, RN Bayu Aji lantas mencoba melacak persinggungan sepakbola Tionghoa dengan aspek-aspek sosial politis. Diuraikan bagaimana bond-bond Tionghoa ini membuat pertandingan amal untuk mengumpulkan donasi bagi korban kelaparan di China sana.

Bagian paling menarik dari buku ini adalah ketika menyinggung konflik antara pers Melayu Tionghoa yang beraliran nasionalis dengan organisasi sepakbola Belanda atau NIVB. Konflik itu dipicu oleh pernyataan rasialis Bekker, seorang pengurus NIVB sekaligus seorang wartawan mingguan d'Orient [lihatlah bagaimana wartawan jadi pengurus bola bukanlah barang baru di negeri ini]. Bekker mengirim press-release mengenai kompetisi NIVB pada bulan Mei 1932 di Surabaya yang melarang wartawan kulit berwarna [termasuk Tionghoa] datang meliput.

Liem Koen Hian, hoofdredacteur/pemimpin redaksi surat kabar Sin Tit Po, marah dan menyatakan memboikot pemberitaan atas semua kabar dari kompetisi NIVB. Koran itu bukan hanya memboikot dalam peliputan, tapi juga menyerukan agar orang-orang Tionghoa juga memboikot dengan tidak menonton pertandingan NIVB. Seruan itu cukup berhasil didengar publik. Aparat keamanan Belanda secara khusus menurunkan jumlah personel cukup banyak guna menjaga agar tidak terjadi kerusuhan. Bond Tionghoa Surabaya juga dituntut oleh pers agar mengundurkan diri dari kompetisi distrik Surabaya yang diorganisir oleh NIVB. Tapi bond sepakbola Tionghoa Surabaya bergeming dan tetap ikut demi menjaga hubungan baik dengan NIVB.

Studi seperti ini bisa memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang bagaimana posisi dan peranan orang Tionghoa dalam politik kewargaan di Hindia Belanda dan Indonesia. Studi yang serupa dengan kasus-kasus di kota lain atau di periode yang berbeda [misal sepakbola dan orang-orang Tionghoa di era Soekarno] akan mepertajam pemahaman kita mengenai topik ini.

Studi-studi lanjutan dengan topik ini mungkin akan bisa menjawab sebuah pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh buku ini: ke mana sekarang pemain-pemain sepakbola Tionghoa? Dan apa kira-kira yang menyebabkan pemain-pemain berdarah Tionghoa itu belakangan tidak sebanyak dulu?

Sumber: detiksport.com

Wednesday, April 15, 2015

Nasib Divisi Utama Mengambang?

Mismail     9:45 PM    
Selain QNB League musim 2015, kompetisi Divisi Utama juga menantikan untuk diputar PT Liga Indonesia (PT LI). QNB League kini tengah dihentikan sementara waktu oleh PT LI sejak 12 April, hingga 25 April mendatang.

Hal tersebut terjadi akibat Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) tidak memberikan rekomendasi kepada Arema Cronus dan Persebaya Surabaya untuk berlaga.

Bahkan, pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga telah menegur PSSI dan PT LI supaya Arema dan Persebaya patuh mengikuti keputusan. Jika tidak, Kemenpora akan mencabut izin organisasi dan melarang kegiatan keolahragaan PSSI.

“Hal tersebut tentu memberikan pengaruh pada pelaksanaan Divisi Utama. Untuk Piala Indonesia seperti apa, saya belum tahu. Semua tergantung ISL-nya seperti apa. Tunggu saja setelah Kongres (KLB) perkembangan seperti apa,” ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen PSSI), Joko Driyono.

Perubahan jadwal pertandingan, termasuk format kemungkinan bakal berubah. Sebelumnya, PT LI selaku operator menjadwalkan menggelar Divisi Utama mulai 26 April. Sebanyak 59 klub direncanakan ikut serta dan akan dibagi ke dalam enam grup.

Kemudian Piala Indonesia (PI), sebelumnya juga direncanakan pada April. Penyelenggaraan Piala Indonesia sebelumnya dijadwalkan setelah ISL bergulir.

Friday, April 10, 2015

Mentari Sulha, Peretas Asa Dari Nagan Raya

munawardismail     12:00 AM    
http://www.acehfootball.com/, SSB
Sekolah Sepak Bola Mentari Sulha mencatat hasil yang fenomenal di ajang babak Kualifikasi Aqua Danone Nations Cup 2015. 

Rahasia sukses ada pada pembinaan yang tak kenal lelah. Tanpa modal, minim dukunga, tapi mereka bisa.

SSB Mentari Sulha adalah tim sepakbola usia dini asal Nagan Raya. Sekolah ini lahir setelah
pendirinya, Eddy Wankunaidi merasa kagum dengan pembinaan olahraga di Singapura termasuk belahan dunia lain.

Dengan mengusung, motto "kegagalan satu jembatan untuk menuju kesuksesan" maka lahirnya klub Mentari yang berarti sinar mata hari pagi. Nama Sulha diambil dari penggalan gabungan orang tua Eddy yakni Sulaiman dan Halimah. Maka munculnya sekolah tersebut.

Setelah berembuk dan mendapat persetujuan tokoh masyarakat Desa Blang Panyang, Kecamatan Seunagan Timur, Nagan Raya. Maka lahirnya SSB Mentari Sulha. "Tak ada kata terlambat," sebut Eddy, dalam bincang-bincang dengan Waspada belum lama ini.

Apalagi, lanjut dia, motivasi besar yang diusungnya adalah demi menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba.  "Meski sangat terbatas sarana dan prasarana, maka hadirlah SSB tersebut," katanya.

Maka, sejak tiga tahun terakhir itulah, mereka terus berkiprah mencari bakat dari pesisir Pantai Barat. Memang, prestasi mutakhir tak seperti layaknya tim-tim SSB dari Pantai Timur.

Namun bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun ke depan, para juara akan muncul dari tanah Nagan Raya. Teranyar adalah, saat mereka mampu menjadi semifinalis Aqua DNC 2015. "Ini untuk keempat kali kami ikut Piala Danone," kata Eddy, sang manajer.

Dia mengakui, membina dan mencari bibit-bibit pemain bola bukan perkara mudah. Apalagi bila tanpa sokongan dari orang tua, pemerintah serta pengusaha. Pun begitu, meski dukungan yang minim, tapi lembaga tersebut tetap hidup.

Kata Eddy, SSB Mentari Sulha berdiri pada 2011. Setahun kemudian, tim yang dilatih Teuku Junaidi Edwar, S.Sos langsung mengikuti Piala Danone. Memang, tahun pertama, mereka belum bisa bicara banyak.

Kemudian, setahun kemudian, tim yang berlatih di lapangan Korp Brimob dan lapangan Simpang Leupee, Nagan Raya ini mulai mewarnai turnamen tahunan yang keberadaannya di dunia diakui sebagai Piala Dunia usia dini.

Dua tahun lalu, pasukan belia Nagan mulai menapaki jejak hingga menembus babak 16 Besar Kualifikasi Aqua DNC 2013 regional Aceh. Setahun kemudian, langkah mereka terhenti di babak delapan besar.

Baru, tahun ini di ajang yang sama, skuad racikan Junaidi melangkah jauh hingga semifinal. Hanya nasib saja yang membuat mereka gagak ke partai puncak. "Kami kalah adu penalti dengan SSB Dewantara," kata Ediwan.

Kekalahan di babak ini membuat M Darwis dkk harus puas memperebutkan posisi tiga dan empat dengan SSB Bijeh Mata, Bireuen. Hasilnya, dibabak itupun, Rizki Mauliandi tak beruntung, mereka kalah 0-1 dari pasukan Kota Juang.

Pun begitu, manajemen mengaku bangga dengan kerja keras Wahyu, M Darwis, Zarkasyi, Muhammad Rozi, Rizki Mauliandi, Sabaruddin, Muhammad Darulnafis, Faisal Musliadi, M Ruhul Febryan, M Aprizal Phonna, M Yusra dan Turiman.

"Anak-anak sudah berusaha, hanya saja belum berhasil. Kerja keras mereka untuk mengharumkan daerah luar bisa. Tapi akhirnya kalah dengan daerah yang memang punya basis sepakbola kuat," tutur Eddy.

Panitia Penyelenggara Piala Danone Regional Aceh, Zahirsyah Oemardy mengaku salut dengan pembinaan yang dilakukan beberapa SSB termasuk Mentari Sulha. Apalagi kiprah tim asal Nagan Raya itu sudah mulai diperhitungkan.

"Dengan pembinaan yang kontinue, mendapat dukungan dari berrbagai pihak, termasuk pemerintah bukan tak mungkin suatu saat nanti, Nagan Raya menjadi sentral pencetak pemain handal seperti daerah lain. Kita harap ini menjadi peretas asa itu," ungkap Zahir saat dihubungi terpisah. [Munawardi Ismail]

Wednesday, April 1, 2015

Ini Dia Tim Kuda Hitam di Piala Pangdam Cup

munawardismail     7:20 AM    
Torehan manis PSAD Bukit Barisan dengan lolos ke semifinal Piala Pangdam I/BB di Stadion Teladan tentunya sangat mengejutkan publik sepak bola Sumut.

Apalagi tim ini justru sukses mengalahkan dua tim kontenstan Divisi Utama musim 2015, Pro Duta dan Persiraja Banda Aceh dengan skor 1-0. Dua gol dalam pertandingan itu pun dicetak dengan pemain yang sama, yaitu Bambang.

Dengan hasil ini, PSAD pun akan diperhitungkan. Setidaknya dalam partai semifinal nanti, tim lawan dipastikan sedikit keder. Ridwan Saragih dkk bermain lepas dalam setiap pertandingan. Di laga akhir grup B nanti, mereka akan bertemu dengan Bintang Jaya Asahan.

"Kita sudah aman bukan berarti mau bermain mengalah atau tidak serius. PSAD harus bisa menunjukan permainan terbaiknya, apalagi di turnamen kita," ujar Ridwan Saragih kapten PSAD Bukti Barisan.

PSAD juga ditangani pelatih Bintang Jaya Suharto AD. Namun dalam turnamen dan karena Suharto AD telah dikontrak klub semiprofesional, tim ini dipercayakan kepada Serma Edy Wira.


About us

Category

FAQ's

Category

FAQ's

© 2011-2014 TABABOLA. Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger | Published By Blogger Templates .