Saturday, May 2, 2015

Mengenang Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia

munawardismail     1:31 AM    
Judul Buku: Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola
Penulis: R.N. Bayu Aji
Tebal: xxi +141 hlm
Penerbit: Ombak, Yogyakarta
Edisi: I, 2010

Buku ini punya posisi penting justru karena isu-isu di luar teknis sepakbola itu sendiri: bagaimana posisi orang-orang Tionghoa dalam peta kewargaan di Indonesia.

Umum diketahui, orang Tionghoa punya posisi yang kompleks dalam struktur sosial di Indonesia. Mereka eksis, sudah ada di wilayah Nusantara berabad-abad lamanya, tapi posisi mereka masih seringkali dianggap sebagai outsider, orang luar. Mereka punya peran besar dalam roda ekonomi di Indonesia dengan segala macam stereotipe yang melekat, tapi di ranah lain mereka tak banyak punya keleluasaan bergerak -- misalnya saja: dalam politik atau militer.

Diskriminasi rasial yang mereka alami memang bukan terjadi hanya dalam fase pasca-kemerdekaan saja. Akarnya jauh lebih dalam dari itu. Pemerintah kolonial Belanda sendiri memang merancang segregasi sosial yang ketat, dengan orang-orang Tionghoa menjadi salah satu target utama pembatasan ruang gerak itu. Mereka ditempatkan di wilayah tertentu, dengan dipimpin oleh orang Tionghoa sendiri [pemimpinnya kerap disebut "Kapiten Cina"] dan harus membawa pass/surat jalan ketika mereka keluar dari enclave-nya sendiri.

Segregasi rasial itu diejawantahkan dalam politik kewargaan kolonial yang membagi warga negara di Hindia Belanda ke dalam tiga kategori: orang Eropa, vreemde-oosterlingen [orang-orang Timur Jauh dan Tionghoa masuk ketagori ini] dan kaum bumiputera. Segregasi sosial itu tidak hadir secara setara, tapi hierarkis dengan orang-orang Eropa berada di puncaknya. Sementara kategori vreemde-oosterlingen dan kaum bumiputera berada di bawahnya dan -- ini siasatnya-- diposisikan saling berhadapan.

Kajian tentang bagaimana peran dan aktivitas orang-orang Tionghoa dalam olahraga [tidak terkecuali dalam sepakbola] menjadi menarik untuk dibaca dalam konteks politik kewargaan ini. Terutama dalam fase Indonesia modern, di mana orang Tionghoa harus menerima banyak diskriminasi dan pembatasan, olahraga memainkan peran strategis bagi sebuah isu penting: bagaimana orang Tionghoa berinteraksi dan memposisikan dirinya dalam kehidupan sosial di Indonesia yang kompleks dan diskriminatif.

Sepakbola -- dan olahraga -- jadi salah satu medan interaksi antara orang-orang Tionghoa dengan ke-Indonesia-an. Di medan inilah orang-orang Tionghoa punya peran yang tak bisa dan tak mungkin dilupakan.

Tak terhitung nama-nama besar pemain sepakbola Tionghoa yang pernah membela panji Indonesia. Dari mulai Mo Heng yang memperkuat timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 sampai nama-nama kontemporer seperti Nova Arianto dan Kim Kurniawan. Sayang, kontribusi dan keterlibatan pemain-pemain Tionghoa dalam sepakbola Indonesia belakangan tidak semeriah seperti di dekade 1950-an sampai 1980-an.

Karena itulah, dengan caranya sendiri, buku ini mengajukan pertanyaan yang sudah jarang diajukan: ke mana mereka?

Buku yang ditulis guna menyelesaikan tugas akhir S-1 di Departemen Sejarah Universitas Airlangga ini melengkapi salah satu puzzle dalam sejarah sepakbola Indonesia. Harus diakui, biar bagaimana pun sejarah sepakbola Indonesia memang mustahil dikisahkan tanpa mengungkap peranan orang-orang Tionghoa ini. Orang-orang Tionghoa ini bukan hanya banyak menyumbang pemain, tapi memang pernah menjadi kekuatan penting dalam politik sepakbola di Hindia Belanda.

Salah satu bagian menarik dari buku ini ada di bab IV yang berjudul "รข€œPerjalanan Perkumpulan Sepakbola Tionghoa Surabaya". Di bab itu, RN Bayu Aji dengan baik memotret Tionghoa sebagai salah satu kutub penting sepakbola saat itu. Saat itu bukan hanya terjadi "dualisme" federasi dan kompetisi, tapi bahkan ada tiga berkat orang-orang Tionghoa ini.

Jika orang-orang Belanda punya Nederlandsch Indische Veotbal Bond [NIVB] dan orang-orang bumiputera punya Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia [PSSI], maka orang Tionghoa juga punya Hwa Nan Voetbal Bond [HNVB]. Masing-masing "federasi" itu punya klub-klub anggotanya sendiri dan menjalankan kompetisinya masing-masing.

Dan HNVB adalah salah satu kutub penting dengan klub dan pemain-pemain berkualitas. Di Batavia ada UMS [Unions Makes Strength], di Bandung ada YMC [Young Men's Combination], di Semarang ada Union Semarang dan di Surabaya ada POR Gymnastiek Sport Vereniging Tionghoa [selanjutnya ditulis POR] yang didirikan pada 1908. POR ini memiliki pengurus cabang olahraga yang berbeda-beda, sementara cabang sepakbola di POR didirikan Oei Kwie Liem pada 1915.

Mereka juga punya steden wedstrijden atau kompetisinya sendiri yang sudah dimulai sejak 1917. Awalnya, kompetisi mereka berjalan monoton karena hanya diikuti bond-bond sepakbola Tionghoa dari kosa-kota besar saja. Puncaknya, pada 1927, Comite Kampioen Wedstrijden Tiong Hoa [CKTH]. Dari situlah akhirnya munculnya NHVB sebagai organisasi yang menaungi semua bond sepakbola Tionghoa di Hindia Belanda.

Lihatlah, bagaimana sejarah "dualisme" dalam sepakbola Indonesia sebenarnya bukan hanya terjadi sekarang-sekarang saja, tapi memang sudah ada presedennya di masa lalu. Tentu tidak sama persis, tapi menyadari ada persinggungan paralelisme dulu dan sekarang bisa mempertajam pengertian kita tentang aspek politis dalam sepakbola Indonesia.

Dengan menelusuri bagaimana orang-orang Tionghoa di Surabaya bermain bola, RN Bayu Aji lantas mencoba melacak persinggungan sepakbola Tionghoa dengan aspek-aspek sosial politis. Diuraikan bagaimana bond-bond Tionghoa ini membuat pertandingan amal untuk mengumpulkan donasi bagi korban kelaparan di China sana.

Bagian paling menarik dari buku ini adalah ketika menyinggung konflik antara pers Melayu Tionghoa yang beraliran nasionalis dengan organisasi sepakbola Belanda atau NIVB. Konflik itu dipicu oleh pernyataan rasialis Bekker, seorang pengurus NIVB sekaligus seorang wartawan mingguan d'Orient [lihatlah bagaimana wartawan jadi pengurus bola bukanlah barang baru di negeri ini]. Bekker mengirim press-release mengenai kompetisi NIVB pada bulan Mei 1932 di Surabaya yang melarang wartawan kulit berwarna [termasuk Tionghoa] datang meliput.

Liem Koen Hian, hoofdredacteur/pemimpin redaksi surat kabar Sin Tit Po, marah dan menyatakan memboikot pemberitaan atas semua kabar dari kompetisi NIVB. Koran itu bukan hanya memboikot dalam peliputan, tapi juga menyerukan agar orang-orang Tionghoa juga memboikot dengan tidak menonton pertandingan NIVB. Seruan itu cukup berhasil didengar publik. Aparat keamanan Belanda secara khusus menurunkan jumlah personel cukup banyak guna menjaga agar tidak terjadi kerusuhan. Bond Tionghoa Surabaya juga dituntut oleh pers agar mengundurkan diri dari kompetisi distrik Surabaya yang diorganisir oleh NIVB. Tapi bond sepakbola Tionghoa Surabaya bergeming dan tetap ikut demi menjaga hubungan baik dengan NIVB.

Studi seperti ini bisa memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang bagaimana posisi dan peranan orang Tionghoa dalam politik kewargaan di Hindia Belanda dan Indonesia. Studi yang serupa dengan kasus-kasus di kota lain atau di periode yang berbeda [misal sepakbola dan orang-orang Tionghoa di era Soekarno] akan mepertajam pemahaman kita mengenai topik ini.

Studi-studi lanjutan dengan topik ini mungkin akan bisa menjawab sebuah pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh buku ini: ke mana sekarang pemain-pemain sepakbola Tionghoa? Dan apa kira-kira yang menyebabkan pemain-pemain berdarah Tionghoa itu belakangan tidak sebanyak dulu?

Sumber: detiksport.com

Sepak Bola, Budaya dan Sosial (Bagian 3)

munawardismail     1:15 AM    

Perhelatan piala dunia sepakbola yang tengah berlangsung di Brasil semakin menyedot para penggemarnya di seluruh penjuru dunia. Di tengah gegap gempita penonton menyaksikan pertandingan di dalam stadion, di luar gedung para pengunjuk rasa melancarkan aksi protes.Tampaknya para pemrotes kesal karena tingginya biaya sebagai tuan rumah yang mencapai US$11 miliar.

Sejumlah warga Brasil menuntut agar dana sebesar itu sebaiknya digunakan untuk pendidikan, pembangunan rumah sakit, perumahan dan keperluan mendasar lain. Sangat kontras ketika sebagian masyarakat Brasil di luar stadion menumpahkan kemarahannya terhadap pemerintah, di dalam stadion justru terjadi kemeriahan karnaval yang dihiasi berbagai simbol dari berbagai warna bendera negara-negara dunia hingga papan reklame para sponsor penyelenggara acara besar tingkat dunia itu.


Fakta ini, sekali lagi menunjukkan bahwa sepakbola bukan hanya olahraga, tapi juga memiliki aspek ekonomi, budaya, sosial dan politik. Piala dunia sepakbola bukan hanya turnamen olahraga bertaraf internasional saja, tapi juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan pertimbangan lainnya. Misalnya, kondisi geografis kota-kota penyelenggara pertandingan akan menjadi pertimbangan bagi penyelenggara piala dunia.


FIFA tentu saja harus mengkaji kondisi budaya dan sosial, populasi, dan aspek lainnya dari tuan rumah penyelenggara. Jika pemerintah Brasil memperhatikan opini publik negara itu tentu saja gelombang protes rakyat menentang penyelenggaraan piala dunia tidak begitu besar, dan biaya pengamanan pun tidak akan melambung tinggi.

Jika FIFA memperhatikan kondisi geografis penyelenggara piala dunia 2022, tampaknya Qatar tidak akan terpilih sebagai penyelenggara even terbesar pertandingan sepak bola dunia itu. Bisa kita bayangkan bagaimana negara yang hanya memiliki luas 11.500 hektar persegi dengan penduduk kurang dari satu juta orang menjadi tuan rumah piala dunia yang mendatangkan turis mancanegara lebih dari satu juta orang yang melebihi penduduk negara Arab itu. Dengan kata lain, pejabat Qatar mempersiapkan infrastruktur dua kali lipat dari jumlah penduduknya yang dikerjakan dalam waktu delapan tahun untuk sebuah kegiatan selama sebulan.


Sejumlah analis menyebut sepak bola menjadi capaian historis setelah Renaissance. Kini masyarakat berupaya untuk merasionalisasikan apapun dan mengontrol setiap peristiwa dan dampaknya. Pertumbuhan masyarakat seperti ini juga didukung oleh kemajuan teknologi. Meksipun masyarakat ini menggunakan alat yang dimiliknya sehingga mampu menekan ancaman alam terhadap manusia, tapi di sisi lain justru memproduksi ancaman baru. Dalam kondisi demikian, sepakbola menjadi sebuah simbol yang hilang dari manusia abad ke-20. Jika dalam masyarakat tradisional, olahraga sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menghadapi perang, kini olahraga menjadi produk modernisme.


Banyak faktor dan fenomena dewasa ini memiliki keterkaitan erat dengan sepakbola yang membuat olahraga itu semakin mendapat tempat di tengah masyarakat modern. Berbagai profesi memiliki hubungan sangat erat dengan sepakbola seperti: medis, ekonomi, psikolog, sosiolog dan lainnya. Lebih dari itu, sepakbola memainkan peran dalam kategorisasi politik dan batasannya. Simon Kuper, penulis buku "Football Against the Enemy", menyinggung peran penting sepakbola sebagai bahasa internasional. Kuper mengunjungi 22 negara dunia dan menyaksikan pengaruh menakjubkan sepakbola terhadap budaya negara-negara dunia.


Dalam salah satu pembahasan di bukunya, Kuper menulis, "Barcelona merupakan klub sepakbola terbesar di setiap negara, bahkan setiap olahraga di seluruh dunia. Mengapa demikian? Padahal para manajer klub dan pemainnya mengatakan klubnya hanya satu saja. Tapi apa yang mereka utarakan tidak penting, sebab sebuah klub itulah yang memiliki makna bagi para suporternya. Barcelona ada di mana-mana, termasuk di Thianjin, Cina. Mereka merasa memiliki Barcelona dan Catalonia, daerah tempat [klub] Barcelona berada".


Orang Catalonia merasa dirinya sebagai bagian dari daerah itu, dan kemudian mengakui sebagai orang Spanyol. Di ranah politik masalah ini berimbas terjadinya perang dan pemberontakan bertahun-tahun antara orang-orang Catalonia terhadap pemerintah pusat Madrid, hingga kematian diktator Francisco Franco Bahamonde di tahun 1975.

Simon Kuper menulis, "Barcelona 100 kali lebih terkenal dari Catalonia dan menjadi kebanggaan orang-orang Catalonia. Jenderal Franco puluhan tahun lalu hapal betul komposisi Real Madrid. Ketika Real Madrid bermain dengan Barcelona, para suporter tidak boleh membawa bendera Catalonia. Profesor Flaquer Luis, sosiolog Catalonia mengatakan, karena rakyat di jalan tidak bisa mengatakan 'Franco penjahat !', lalu mereka menyampaikannya terhadap pemain Real Madrid ". Kepingan fakta sejarah ini menunjukkan peran penting sepakbola dalam kehidupan manusia, termasuk di ranah politik.


Sepakbola bukan hanya sebuah permainan saja, tapi menjadi pemicu kebahagiaan jutaan orang di dunia. Lebih dari 280 juta orang termasuk anggota masyarakat sepakbola dunia baik sebagai olahraga maupun hiburan. Sepakbola merupakan sekuel lisan dari kondisi mental dan psikologis sebuah masyarakat. Sepakbola bukan hanya kompetisi semata, bahkan merupakan manifestasi nilai-nilai tinggi kemanusiaan seperti kerjasama, pemaaf, dan ketekunan, kesabaran dan lainnya.

Dengan demikian, sepakbola juga menjadi sarana pendidikan melalui olahraga yang sehat dan edukatif.


Sepakbola memainkan peran penting dalam memupuk solidaritas sosial dengan mengumpulkan banyak orang yang berlainan latar belakang. Meski demikian, sepakbola juga menimbulkan masalah di tengah friksi politik. Misalnya, peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Kenya. Kelompok teroris Boko Haram dan Al Shabab menyerang dan membunuh para suporter sepakbola dan warga Kenya yang menyaksikan piala dunia sepakbola.

AKI melaporkan, kelompok teroris menyerang dan membunuh sebagian orang yang sedang menonton piala dunia di sebuah televisi besar di salah satu kota di Kenya. Kelompok teroris Boko Haram menggunakan momentum piala dunia sebagai alasan untuk membunuh lebih banyak warga sipil. Dilaporkan kelompok teroris Boko Haram membunuh 300 orang warga sebuah daerah di Kenya. Tidak hanya itu, mereka juga menyatakan akan menghadapi para pendukung piala dunia sepakbola di Brasil. Mungkin itulah sebabnya penulis Inggris, George Orwell menilai sepakbola sebagai sumber amoralitas dan perang tanpa penembakan.


Benarkahdemikian? Jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada Jean-Paul Sartre, filsuf Prancis itu mengatakan, "Sepakbola adalah permainan sederhana, tapi adanya tim dan lawan membuatnya menjadi rumit dan sulit". Sepak bola  menurut filsuf ini memiliki beberapa aspek, tapi masing ?masing tidak bisa menjelaskan kondisi sosial sepakbola sebenarnya.

Tampaknya, setiap penilaian orang mengenai sepakbola dan memberikan informasi kepada kita seperti hanya jadual penting pertandingan seperti piala dunia. Realitasnya, setiap tim dalam momentum penting olahraga ini bukan hanya sebuah tim sepakbola saja, tapi memandang aspek lain seperti sejarah, budaya dan geografis masing-masing.

Selain itu harus juga mempertimbangkan sisi sensitif dan urgensi dari aspek ekonomi, politik dan sosial sepakbola bagi masyarakat, sehingga mereka tidak menjadi korban permainan media dan gencarnya iklan.

Sumber: IRIB Indonesia/PH

Sepak Bola, Budaya dan Sosial (Bagian 2)

munawardismail     1:04 AM    

Tampaknya tidak ada yang tahu persis berapa seluruh suporter sepakbola di dunia. Tapi, tidak diragukan lagi sepakbola merupakan olahraga yang paling banyak penggemarnya dibandingkan olahraga lain.Terkait sepakbola, orang Brasil memiliki pepatah, "Di desa paling terpencil sekalipun selalu ada dua; gereja dan lapangan sepakbola". Tentu saja, tidak semua desa memiliki gereja, tapi pastinya memiliki lapangan sepakbola.


Hingga kini, tidak ada olahraga yang mendapatkan sambutan paling meriah dan gegap gempita dari masyarakat di berbagai negara dunia selain sepakbola. Untuk itulah tidak sedikit analis yang meyakini bahwa sepakbola bukan sekedar olahraga, tapi sebuah olahraga yang menimbulkan perang, revolusi, dan menjadi perhatian mafia dan para diktator.


Saat ini media massa mulai dari televisi hingga program radio, koran dan majalah serta situs internet dan media sosial berbicara tentang sepakbola. Tampaknya tidak ada isu lain yang bisa menandingi sepakbola bagi kebanyakan masyarakat dunia.

Lalu mengapa bisa demikian Sepakbola mulai gencar memasuki dunia media massa sekitar dekade 60-an dengan berkembangnya beragam sarana media global. Sejak itu, permainan sepakbola memiliki dampak global baik di sektor politik, ekonomi, sosial dan budaya. Media massa menempatkan sepakbola sebagai komoditas ekonomi dan akhirnya menjadi bagian dari ranah politik.


Media bukan hanya menyebabkan terbentuknya interaksi sosial. Tapi lebih dari itu menciptakan sebuah sistem nilai simbolik yang dibentuknya. Permainan sepakbola yang dibentuk oleh tiga faktor struktural; ekonomi Kapitalisme, klub dan media menjadi komoditas besar ditangan ketiganya. Sistem Kapitalisme dengan membenamkan nilai-nilai material dan ekonomi menjadikan olahraga sepakbola lebih sistematik dan terorganisir dalam bentuk sistem klub yang profesional.


Dengan mengubah sepakbola menjadi sebuah nilai sosial, media bukan hanya menunjukkan kekuatannya mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, tapi lebih dari itu memanfaatkan sepak bola yang memiliki daya tarik bagi publik dunia sebagai komoditas ekonomi. Dengan kata lain, media mampu menarik pemirsa, dan tanpa mereka tidak ada media yang bisa melanjutkan kehidupannya. Semakin tinggi pemirsa, semakin tinggi pula tingkat keberhasilan dan kekuatan sebuah media.

Saat ini jutaan penonton pertandingan sepakbola merupakan pemirsa media sekaligus. Sepakbola bagi media terutama televisi memiliki karakteristik khusus yang meningkatkan perhatiannya terhadap permainan olahraga itu. Dengan kata lain, sepakbola memiliki potensi untuk menampilkan peran media di tempat yang tinggi, sehingga sesuai dengan kepentingan ekonomi, politik, budaya tertentu.

Secara umum media berperan sebagai sarana hiburan, perhatian politik, pendidikan, penerangan dan membantu sosialisasi kepada masyarakat.

 Berdasarkan definisi tersebut, permainan sepakbola yang disiarkan melalui media massa seperti televisi merupakan bagian dari upaya mewujudkan tujuan dari definisi media tersebut. Rowe David dalam bukunya "Olahraga, Budaya dan Media" menegaskan bahwa sepakbola memiliki tiga level institusi, simbol dan hubungan dengan media yang sangat erat dalam bentuk interaksi timbal balik.

David meyakini ketiga level tersebut merupakan bentuk dari permainan kekuasaan dan kepentingan ekonomi dan politik antara dua institusi olahraga dan media. Oleh karena itu, ia berkeyakinan bahwa olahraga dan media saling memanfaatkan daya tarik ekonomi dan politik tertentu demi kepentingannya masing-masing.


Saking pentingnya peran media di dunia modern dewasa ini, sejumlah analis mengungkapkan bahwa segala sesuatu saat ini memiliki wajah ganda, satu wajah media, dan yang lain wajah sebenarnya. Misalnya, sepakbola di media dan sepak bola sebenarnya. Untuk itulah televisi menampilkan siaran sepakbola dan berbagai perusahaan memproduksi permainan game sepakbola secara besar-besaran dari duplikasi permainan sepak bola dan berbagai klub terkemuka dunia yang mengubah dunia sepakbola di ranah media.


Di sisi lain, media juga telah memberikan pengaruh terhadap aspek politik, ideologi, sosial dan ekonomi dari sepakbola. Untuk itulah siaran sepakbola yang ditayangkan televisi bukan sepenuhnya masalah tayangan pertandingan olahraga tersebut saja, tapi telah berubah menjadi fenomena lain. Tampaknya semua media menunjukkan adanya pesan yang ingin disampaikan melalui siaran yang ditayangkannya. Tidak hanya itu, media juga memproduksi pesan dan sistem baru yang disampaikan kepada audiensnya.


Selama beberapa dekade terakhir media sangat memainkan peran besar bagi  aspek ekonomis sepakbola, dan menjadikan olahraga tersebut sebagai bisnis yang menghasilkan banyak uang. Kapitalisasi sepakbola merupakan fenomena menarik dewasa ini yang memanfaatkan emosi, hiburan dan juga permainan sepakbola berpadu menjadi sebuah komoditas menguntungkan yang bisa diukur dengan uang dalam jumlah yang sangat besar. Kondisi tersebut semakin menjamur sejak adanya iklan di klub-klub sepakbola. Pengembangan klub raksasa sepakbola dan pentingnya para pemain terkemuka mereka dalam permainan menjadikan olahraga sebagai komoditas yang mampu mengeruk keuntungan begitu besar.


Tayangan siaran pertandingan olahraga relatif membutuhkan biaya yang lebih kecil dibandingkan program lainnya seperti film dan lainnya. Tapi pendapatan yang diraih dari iklan yang ditayangkan bersama dengan siaran tersebut sangat besar. Inilah alasan mengapa siaran pertandingan sepakbola menjadi perhatian besar bagi media, terutama televisi. Dengan kata lain, sepakbola memiliki fungsi ekonomi yang besar bagi media.


Tampaknya, untuk memahami fungsi sepakbola sebagai komoditas bisnis kita tidak perlu mengerutkan dahi lebar-lebar dengan mengetahui berapa bayaran seorang pemain sepakbola seperti Messi dari iklan perusahaan alat olahraga, atau berapa investasi yang telah ditanamkan untuk klub olahraga terkemuka di Italia. Sebab secara sederhana kita menyaksikan tayangan iklan yang bertubi-tubi ketika siaran sepakbola ditayangkan.


Sepakbola juga bisa dilihat dari aspek lain. Salah satu aspek sepakbola adalah penentuan siapa tuan rumah penyelenggaranya. Dengan kata lain, setiap masyarakat yang terlibat dalam hiruk-pikuk sepakbola memandang aspek politik, ekonomi dan sosial sepakbola bagi sebuah masyarakat dengan masyarakat tidaklah sama.

Untuk memahami pentingnya sepakbola kita melihat pentingnya tuan rumah penyelenggara sepak bola dunia yang kali ini digelar di Brasil. Mengapa fenomena sepakbola menjadi salah satu aspek budaya terpenting dunia saat ini. Sepakbola dewasa ini berganti menjadi sebuah bahasa kolektif publik dunia. Sepakbola menjadi sebuah bahasa global yang memiliki aturan bahasa dan istilah dengan ketentuan internasional.

Meski demikian tidak boleh dilupakan bahwa sepakbola juga merupakan fenomena lokal. Sebab seluruh aspek politik, ekonomi dan sosial yang ada didalam sepakbola juga dipengaruhi oleh fenomena lokal. Sejatinya, sepakbola merupakan sebuah olahraga yang semakin berkembang dan melewati fungsinya sebagai hiburan dan menembus batas kehidupan sosial, ekonomi, politik masyarakat suatu negara.


Begitu banyaknya warna dari aspek ekonomi, budaya dan politik mengenai sepakbola, lalu apa sepakbola itu sendiri? Jawabannya kembali kepada bagaimana kita menilai sepakbola, dan cara pandang kita terhadap olahraga ini.

Dalam pandangan seorang revolusioner seperti Che Guevara, sepakbola bukan sebuah permainan olahraga saja, tapi sebuah senjata revolusi. Dan seorang penulis seperti Albert Camus berujar lirih, "Seluruh apapun mengenai diriku tentang moral dan komitmen, semua berutang kepada sepakbola!"

Sumber: IRIB Indonesia/PH

Sepak Bola, Budaya dan Sosial (Bagian 1)

munawardismail     12:55 AM    

Olahraga kian hari semakin mendapat tempat di era modern dewasa ini. Olahraga merupakan salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan fisik dan mental manusia. Olahraga menjadi sarana hiburan, pengenalan individu dengan kelompok dan membangun kebersamaan yang meningkatkan ketentraman dan keselamatan mental dan pikiran manusia. Untuk itulah, olahraga saat ini menjadi kebutuhan  masyarakat dunia.

Tidak adanya bedanya apakah gulat di Iran maupun sepakbola di Brasil, atau Ski di Norwegia dan olahraga lainya. Bagaimanapun olahraga merupakan bagian penting dari pengalaman perjalanan hidup manusia.


Kini olahraga lebih dari sekedar hiburan, tapi juga menjadi industri kreatif yang menghasilkan uang berlimpah dan lapangan kerja yang besar. Tidak hanya itu, olahraga juga mengubah hubungan sosial.Tampaknya, meningkatnya kecenderungan masyarakat terhadap olahraga menjadikannya semakin memainkan peran penting di tengah masyarakat melebihi sebelumnya.


Olahraga merupakan fenomena sosial yang memiliki hubungan yang erat dengan rangkaian institusi sosial dan struktur masyarakat. Untuk itulah olahraga juga dijadikan sebagai parameter menilai kemajuan masyarakat sebuah bangsa dan negara.

Berkembangnya parameter untuk menilai olahraga seperti olahraga untuk hiburan, olahraga untuk keselamatan, olahraga untuk lapangan kerja, olahraga untuk pertahanan dan bela negara, olahraga sebagai faktor budaya dan berbagai parameter lainnya. Seluruhnya menunjukkan bahwa olahraga sebagai fenomena sosial yang menarik untuk dikaji.

Di tengah semaraknya piala dunia di Brasil, menarik kiranya mengkaji fenomena sosial dan budaya dari olahraga yang sedang berlangsung di negara Amerika Latin itu, terutama menyoroti sepakbola sebagai olahraga yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat dunia.


Sejak 12 Juni lalu Piala Dunia FIFA 2014 ke-20 telah dimulai dan masih berlangsung hingga kini. Untuk kedua kalinya Brasil menyelenggarakan turnamen  besar ini setelah tahun 1950. Tim sepak bola nasional dari 31 negara yang lolos melalui persaingan kualifikasi yang dimulai pada bulan Juni 2011, berpartisipasi dalam piala dunia sepak bola ini. Sebanyak 64 pertandingan akan dimainkan di dua belas kota di Brasil, baik stadion baru atau yang dibangun ulang, dengan turnamen yang dimulai dengan babak penyisihan grup.


Piala Dunia 2014 di Brasil mengusung slogan "All in One Rhythm" dengan tujuan untuk mempersatukan para penggemar sepak bola di seluruh dunia. Induk Organisasi Sepakbola Dunia, FIFA, Selasa (29/5) menyatakan bahwa slogan resmi tersebut merupakan usaha bersama antara Brasil dengan dunia sepak bola yang akan menggambarkan keunikan Brasil dalam menyelenggarakan Piala Dunia.


Menteri Olah Raga Brasil, Aldo Rebelo mengatakan slogan tersebut merupakan undangan bagi para warga dan pengunjung untuk "bergabung bersama dan merayakan kebanggaan yang besar".

Dari aspek ekonomi, perhelatan Piala Dunia 2014 sedikitnya berhasil menarik 600 ribu turis ke Brasil. Sejumlah kota di Brasil mendulang banyak keuntungan dari turnamen internasional tersebut. Laman Forbes hari Kamis (19/6/2014) melaporkan masyarakat dari 180 negara terbang dan tinggal di Brasil selama Piala Dunia berlangsung.

Kota-kota di Brasil diprediksi dapat mengeruk keuntungan hingga $3,04 miliar. Menteri Pariwisata Brasil Vinicius Lages mengatakan, sedikitnya 3 juta warga Brasil juga akan membanjiri beberapa kota tempat pertandingan digelar. Bukan rahasia lagi, kota pencetak uang terbanyak adalah Rio de Janeiro.


Menurut  laporkan The Spy Ghana, Jumat (3/1/2014), badan pariwisata Brasil mengungkapkan, pendapatan yang diperoleh dari sektor pariwisata dengan datangnya turis di piala dunia kali ini melampaui dana publik yang diinvestasikan untuk membiayai penyelenggaraan kejuaraan sepakbola dunia tersebut.

"Sumber-sumber dana dari para turis tersebut dapat menggenjot sejumlah sektor ekonomi di seluruh wilayah Brasil, mulai dari penerbangan hingga ekonomi informal," ujar Direktur State Tourism Board Embratur, Flavivo Dino. Dia mengatakan, Piala Konfederasi yang berlangsung selama 15 hari pada Juni lalu telah menyuntikkan dana hingga $311 juta bagi perekonomian Brasil. Selain itu, World Youth Day yang digelar sebulan setelahnya juga menyumbang dana sebesar $ 502 juta terhadap ekonomi Brasil.


Di luar masalah piala dunia, sepak bola merupakan olahraga yang paling tinggi pendapatannya. Betapa tidak, 30 pemain sepakbola termasuk 100 olahragawan dengan pendapatan terbesar di dunia. Pemain sepakbola profesional juga termasuk yang tertinggi di dunia bisnis. Secara umum besarnya gaji pemain sepakbola dipengaruhi oleh sejumlah faktor.


Pertama, perkembangan media yang menjadi salah satu alasan untuk pertumbuhan yang cepat dari gaji pemain dengan asumsi bahwa upah setidaknya sebanding dengan produktivitas marginal. Kedua, peningkatan permintaan untuk olahraga bisa juga dikaitkan dengan peningkatan tingkat kekayaan umum atau daya beli masyarakat, sehingga dimungkinkan ada perubahan preferensi dan peningkatan pengeluaran rumahtangga pada sektor hiburan khususnya dalam menonton sepakbola.


Ketiga, kenaikan gaji pemain sepakbola juga bisa disebabkan meningkatnya daya tawar pemain misalnya dengan adanya ancaman pemogokan yang dimulai sejak tahun 1960-an. keempat, pertumbuhan penerimaan klub atau adanya investor yang mengakibatkan daya beli klub meningkat untuk membeli pemain berkualitas dapat meningkatkan harga pemain. Kelima, adanya peningkatan produktivitas dan kualitas pemain dihargai oleh klub dengan harga yang lebih tinggi. Keenam, kehadiran agen pemain dalam transaksi pemain turut mempengaruhi besarnya inflasi harga pemain sepakbola.


Sepak bola merupakan miniatur dari dunia persaingan dalam masyarakat. Olahraga ini menunjukkan kehidupan yang kecil yang melibatkan pemain, pelatih juga penonton. Sepak bola menampilkan kontribusi setiap orang dalam kekompakkan tim yang tidak hanya melibatkan pemain tapi juga pelatih dan anggota tim lainnya. Sehebat apapun seorang pemain sepakbola, tapi tidak bisa bekerjasama secara kompak dengan sesama pemain, maka keberhasilan timnya tidak akan tercapai. Sepakbola memadukan keahlian individu dan kerjasama dalam kelompok yang merupakan miniatur dalam kehidupan bermasyarakat.


Aspek lain dari sepak bola adalah tingkat kontrol terhadap emosi massa, terutama para suporter kedua tim yang bermain.Tingkat kerumunan para suporter yang sangat padat dengan emosi yang tinggi meningkatkan potensi konflik.Tidak heran sering terjadi keributan di stadion dan setelah pertandingan akibat ketidakmampuan mengontrol tingkat emosi massa yang tinggi di arena pertandingan. Bahkan tidak sedikit yang berbuntut bentrokan antarsuporter masing-masing.


Kerumunan para suporter yang bertemu dalam sebuah pertandingan besar dengan berbagai karakternya sendiri-sendiri melemahkan sistem kontrol internal mereka masing-masing. Kendali massa dari para suporter tim yang kalah dalam permainan dengan emosinya yang meledak-ledak berpotensi besar untuk melakukan aksi balas dendam dan tindakan destruktif terhadap fasilitas umum.

Sumber: IRIB Indonesia/PH

Wednesday, April 15, 2015

Mata Terbukti Lebih Baik dari Oscar, Kata Statistik

Mismail     10:14 PM    
Playmaker Manchester United Juan Mata mungkin tidak meraih keberhasilan di Old Trafford seperti yang dia harapkan, tapi tetap saja dia masih lebih baik dari mantan rekan setimnya di Chelsea, Oscar.

Jose Mourinho menjual Mata ke Manchester United dengan harga 37 juta pounds pada bulan Januari 2014, dan ia akhirnya menghadapi kritik karena membiarkan pemain asal Spanyol itu pergi mengingat ia adalah Player of the Year Chelsea pada tahun 2012 dan 2013.

Dan kritik itu terbukti benar saat ini, di mana Juan Mata menampilkan performa mengesankan di sepanjang musim ini, bahkan lebih baik dari Oscar, yang lebih dipilih Mourinho untuk menempati pos playmaker di Chelsea.

Statistik ini menunjukkan bahwa sejak bergabung dengan United, Mata telah membuat umpan sukses yang lebih banyak, gol yang lebih banyak dan assist yang lebih banyak dari Oscar.

Bukan hanya Mata yang menjadi ‘blunder’ dari Mourinho, karena Kevin de Bruyne juga menjadi kesalahan transfer dari The Special One di awal musim ini. Dilepas demi karena dianggap tak berkembang, De Bruyne kini justru tampil istimewa bersama Wolfsburg dengan mencetak 14 gol dan 22 assist musim ini. 


About us

FAQ's

FAQ's

© 2011-2014 TABABOLA. Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger | Published By Blogger Templates .